Foto memperlihatkan kerusakan bangunan akibat gempa (Twitter/DaryonoBMKG)
Gempa bumi besar yang terjadi di Daerah
Istimewa Yogyakarta pada 2006 lalu masih membekas dalam ingatan warga DIY dan
sekitarnya. Hari ini, atau tepat 14 tahun berlalu, melalui tagar #14TahunGempaJogja, warganet mengenang
peristiwa tersebut lewat cuitan twitter. Tagar tersebut juga berhasil
menduduki trending topik pertama twitter Indonesia pada pagi tadi.
Gempa yang terjadi tentunya mengagetkan
masyarakat Yogyakarta. Mengingat saat itu Gunung Merapi sedang aktif, membuat
semua mata seolah sedang tertuju pada bencana gunung api saja.
Dikutip dari Geomagz KemenESDM, Pada
24- 27 April 2006, di sela-sela presentasi sebuah simposium berkenaan dengan
aktivitas Gunung Merapi, penulis mengingatkan bahwa Yogya tidak hanya rawan
terhadap bencana gunung api, tetapi juga gempa bumi, sebagaimana pada abad 19
pernah terjadi gempa besar yang meluluhlantakkan Kota Yogya. Ketika itu reaksi
sebagian besar peserta tertegun seperti tidak pernah mendengar cerita tentang
bencana gempa abad 19 itu. Memang, sepuluh tahun yang lalu Merapi mulai
memuntahkan semburan piroklastikanya pada 11 Mei 2006, menyebabkan sekitar 22
ribu warga di lereng Merapi dan utara Yogya dievakuasi untuk mengantisipasi
letusan yang lebih besar. Tindakan mitigasi yang sigap ini terbilang sukses
karena ternyata empat hari kemudian, pada 15 Mei, Merapi benar-benar meletus
cukup besar.
Namun, apa
yang benar-benar di luar dugaan adalah pada dini hari Sabtu, 27 Mei 2006 pukul
05.53 WIB, saat orang menyantap sarapan atau mulai bersiap-siap untuk pergi
bekerja, terjadi gempa dangkal di darat berkekuatan sekitar Mw 6.4 dengan
episentrum (pusat) di wilayah Bantul yang menyebabkan tanah berguncang sekitar
52 detik. Walaupun magnitudonya tidak terlalu besar, gempa ini, seperti
dilaporkan oleh Consultative- Group on Indonesia (2006), membunuh 6 ribu
orang, menyebabkan 50 ribu orang luka-luka, dan 500 ribu sampai sejuta orang
kehilangan tempat tinggal; menelan kerugian sebesar 2,9 triliun rupiah (3,1
miliar US dollars). Wilayah kerusakan terberat adalah Bantul dan Klaten,
termasuk kerusakan serius pada Candi Prambanan dan Makam Sultan dari Abad 16 di
Imogiri.
Baca selengkapnya di GEOMAGZ – Misteri Patahan Sumber Gempa Yogya 2006
Gedung kantor BPKB Yogyakarta yang roboh miring diguncang gempa (Geomagz/Danny Hilman N.)
Setelah
kejadian tersebut, kepanikan terjadi di seluruh wilayah DIY, berbagai isu
berembus menakuti masyarakat. Gunung Merapi, gempa susulan yang lebih besar,
hingga isu terjadinya tsunami. Tak bisa dipungkiri, gempa susulan memang terus
terjadi, namun, tidak lebih besar dari gempa utama (mainshock). Sementara itu, Gunung Merapi tidak dapat dikaitkan karena memang
gempa terjadi akibat aktivitas tektonik, bukan vulkanik. Di sisi lain, isu tsunami menjadi
biang keributan saat itu, tapi wajar rasanya, mengingat 2 tahun sebelumnya
terjadi tsunami besar akibat gempa di Aceh.
Peta guncangan gempa bumi M6.4 Yogyakarta (Wikimedia/USGS)
Rekaman seismogram gempa bumi utama (Geofon/BMG)
Rekaman seismogram gempa susulan yang terus terjadi (Geofon/BMG)
Riando Elang
Desilva (24), warga Depok, Sleman, melalui detikcom,
menceritakan bagaimana isu tsunami membuat kepanikan saat itu.
“Sesampainya
di Badran (Barat Stasiun Tugu) perasaan saya seketika berubah menjadi panik
karena dari arah Selatan (arah Ngabean) ada banyak orang berlari – lari sambil
berteriak ‘Banyune wis munggah’ atau
artinya ‘Airnya sudah naik’ untuk menggambarkan kondisi bahwa tsunami sudah
melanda,” ungkapnya.
“Bisa
dibayangkan, jarak dari Badran sampai ke laut selatan lebih dari 30 km. Saya
membayangkan bahwa gelombang tsunami datang dengan kecepatan tinggi dan siap
menghantam siapa saja yang dilewatinya. Ditambah yang ada di pikiran saya
adalah tsunami Aceh tahun 2004,” tambahnya kepada detikcom.
Baca selengkapnya di detikcom – Warga Yogya Hari Ini Mengenang #14TahunGempaJogja
Warga dari Kabupaten Bantul dan Kota Yogyakarta berbondong-bondong menjauh dari Pantai Selatan karena panik oleh isu tsunami (Kompas.com/Gempa Jogja)
Seandainya warga Yogya dahulu telah dibekali
ilmu mitigasi dan pemahaman bencana, tentunya kepanikan besar tersebut tidak
akan terjadi. Sulit rasanya tsunami dapat sampai ke kota Jogja, apalagi dengan
gempa magnitudo di bawah 7.
Yogyakarta kini telah berbenah, kembali
bangkit dan tidak melulu jatuh pada duka bencana. Gotong-royong yang menjadi
kunci kebangkitan tersebut. Mitigasi dan pemahaman bencana telah tumbuh di
tengah masyarakat (semoga saja). Namun, hari ini, Yogyakarta kembali terusik,
pandemi COVID-19 turut memaksa kehidupan masyarakat seolah terhenti. Semoga bencana
non-alam yang melanda dunia ini segera berakhir.
Perbedaan episenter gempa bumi berbagai lembaga karena perbedaan metode dan alat (ESDM/Geomagz)
Hingga kini sebenarnya masih terdapat
perbedaan data dalam pencatatan peristiwa gempa tersebut. Mulai dari waktu
terjadi, episenter, kekuatan, dan jumlah korban. Namun, terlepas dari perbedaan
tersebut, gempa bumi kuat yang terjadi di DIY mengingatkan kita untuk bisa
tetap eling lan waspada.







Comments
Post a Comment