Awan panas letusan Gunung Merapi 14 Oktober 2019 (Twitter/BPPTKG)
Pada 21 Mei 2018 yang lalu, Gunung Merapi
mengalami kenaikan status aktivitas dari NORMAL
(level I) menjadi WASPADA (level II).
Hingga hari ini atau tepat dua tahun setelah kenaikan status tersebut, aktivitas
gunung yang terletak di perbatasan DIY-Jawa Tengah itu mengalami peningkatan
secara perlahan dengan status yang masih sama, yakni level II atau waspada.
Kenaikan status aktivitas Gunung Merapi dari
normal menjadi waspada tentunya tidak lepas dari adanya erupsi freatik beberapa
hari sebelumnya. Gunung Merapi yang awalnya nampak tenang, mendadak menjadi
sumber kekhawatiran. Tepatnya pada 11
Mei 2018 pagi, erupsi freatik tiba-tiba terjadi di Merapi. Para pendaki
yang saat itu sedang berada di lereng Merapi tentunya menjadi panik. Untungnya seluruh
pendaki saat itu berhasil dievakuasi dengan selamat.
12.50 LAPORAN SINGKAT ERUPSI GUNUNG MERAPI RILIS TANGGAL 11 MEI 2018 PUKUL 12.00 WIB@KementerianESDM @kabargeologi @vulkanologi_mbg @id_magma pic.twitter.com/HY00hcieXB— BPPTKG (@BPPTKG) May 11, 2018
Dikutip
dari Tempo.co, Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi
Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta makin intens melakukan pengawasan
aktivitas Gunung Merapi selama 24 jam usai rentetan erupsi freatik
selama 10 hari terakhir. Dalam selang 10 hari, yaitu pada 11-21 Mei 2018,
setidaknya telah terjadi tiga kali letusan freatik atau uap air dari Merapi.
Setelah adanya peningkatan aktivitas Merapi,
yakni erupsi freatik, gempa vulkanik, tremor, serta aktivitas lainnya. Akhirnya
BPPTKG menaikkan status aktivitas Merapi dari NORMAL (level I) menjadi WASPADA
(level II) pertanggal 21 Mei 2018
pukul 23.00 WIB.
23.14 Tingkat Aktivitas #merapi dinaikkan dari NORMAL ke WASPADA mulai tanggal 21 Mei 2018 Jam 23.00 WIB @merapi_news @JogjaUpdate @infobencana @infomitigasi @infoseni_ @starjogja @jalinmerapi pic.twitter.com/Zqs0OqDTAU— BPPTKG (@BPPTKG) May 21, 2018
Tanggal 18 Agustus 2018 pukul 17.00 WIB,
BPPTKG mengeluarkan siaran pers yang menyebutkan bahwa kubah lava telah muncul atau terbentuk di Gunung Merapi. Kubah lava
ini pertama muncul pada 11 Agustus 2018.
Hal ini menandakan fase erupsi magmatik dimulai.
Tetap waspada ya masyarakat sekitar Gunung Merapi. BPPTKG merilis adanya kubah lava baru dengan ukuran 55m x 25m x 5m di tengah rekahan kubah lava pascaerupsi 2010. Status tetap Waspada. Radius bahaya di dalam 3 km. Tidak usah panik. Jika ada sesuatu pasti BPPTKG menginfokan. pic.twitter.com/tUvMFU8MX8— Sutopo Purwo Nugroho (@Sutopo_PN) August 18, 2018
Berdasar informasi dari akun youtube resmi
BPPTKG, guguran lava pijar mulai
terjadi pada November 2018 akibat kubah lava yang telah memenuhi permukaan alas.
Namun, jika didasarkan pada siaran pers BPPTKG tanggal 24 November 2018, guguran
lava pijar dilaporkan mulai terjadi pada 22
Agustus 2018 atau tepat sebelas hari pasca-kemunculan kubah lava di Gunung
Merapi. Kejadian guguran ini merupakan hal yang biasa seiring dengan pertumbuhan kubah
lava.
Siaran Pers 24 November 2018, mengenai kejadian Guguran lava di #merapi dpt disimak dalam info grafis berikut. @KementerianESDM @kabargeologi @vulkanologi_mbg @humas_jogja @humasjateng @BNPB_Indonesia @jalinmerapi pic.twitter.com/QPX1MTIVR8— BPPTKG (@BPPTKG) November 24, 2018
Pada 29
Januari 2019, BPPTKG melaporkan terjadi tiga kali guguran lava pijar, yakni
pukul 20.17, 20.53, dan 21.14 WIB. Akibat kejadian tersebut, hujan abu terjadi
di beberapa lokasi, antara lain di Kabupaten Boyolali dan Klaten. Sore hari
setelahnya atau tanggal 30 Januari 2019, BPPTKG mengeluarkan siaran pers yang
menyebutkan bahwa ketiga guguran lava tersebut dikonfirmasi sebagai awan panas guguran.
Siaran pers perkembangan aktivitas Gunung Merapi tanggal 30 Januari 2019. Tingkat aktivitas masih ditetapkan pada tingkat Waspada (level II). pic.twitter.com/jeFPGROX13— BPPTKG (@BPPTKG) January 30, 2019
Dikutip dari Kompas.com, Kejadian awan panas
guguran ini merupakan yang pertama pasca-status Gunung Merapi ditetapkan menjadi
waspada (Level II).
"Jadi, ini merupakan
guguran awan panas pertama," ujar Kepala BPPTKG Yogyakarta, Hanik Humaida,
dalam jumpa pers, Rabu (30/1/2019).
Setelah hampir delapan bulan usai kemunculan
awan panas guguran, pada 22 September
2019 untuk pertama kalinya terjadi awan
panas letusan di Gunung Merapi. Berbeda dengan awan panas guguran yang disebabkan runtuhan kubah lava, awan panas letusan terjadi akibat tekanan gas dari dalam
yang menimbulkan letusan.
Siaran Pers Kejadian Awanpanas Letusan Gunung #Merapi tanggal 22 September 2019.#statuswaspada sejak 21 Mei 2018 pic.twitter.com/MG941HEw45— BPPTKG (@BPPTKG) September 22, 2019
Selama tahun 2020 hingga saat ini, letusan
atau erupsi di Gunung Merapi telah terjadi setidaknya sembilan kali. Terakhir,
erupsi terjadi pada 10 April 2020 dengan tinggi kolom erupsi 3000m dari puncak.
Seluruh erupsi yang terjadi sejak kenaikan
status waspada hingga kini masih pada batas aman. Masyarakat diimbau untuk
tetap tenang dan beraktivitas normal di luar radius 3km dari puncak.

Comments
Post a Comment